Bagi saya, stunting bukan sekadar angka dalam laporan pemerintah.
Di balik angka itu ada anak yang sedang tumbuh, ada orang tua yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya, dan ada masa depan Yogyakarta yang sebenarnya sedang kita tentukan hari ini.
Karena itu, ketika berbicara tentang stunting, pertanyaannya tidak cukup hanya: berapa persen prevalensinya tahun ini? Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah setiap anak di Daerah Istimewa Yogyakarta sudah mendapatkan makanan yang cukup, aman, beragam, bergizi serta terjangkau untuk mendukung tumbuh kembangnya.
Stunting juga bukan semata-mata persoalan tinggi badan anak. Ia merupakan hasil dari persoalan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu panjang. Asupan makanan, kesehatan ibu, infeksi berulang, pola pengasuhan, sanitasi, hingga kondisi ekonomi keluarga saling berkaitan. Karena itu, penanganannya pun tidak mungkin hanya dibebankan kepada satu dinas atau satu program.
Pada titik inilah saya melihat ada satu potensi yang belum kita manfaatkan secara optimal: ikan.
Bukan karena ikan adalah satu-satunya solusi stunting. Ikan adalah salah satu bagian dari solusi yang berhubungan dengan sistem pangan, kesehatan, pendidikan, perilaku konsumsi, dan ekonomi masyarakat.
Angka Stunting Kita Turun, tetapi Pekerjaan Rumah Belum Selesai
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting di DIY sebesar 17,4 persen. Angka ini turun dari 18 persen pada tahun sebelumnya dan masih lebih rendah dibandingkan angka nasional sebesar 19,8 persen.
Capaian tersebut tentu patut kita apresiasi. Tetapi kita tidak boleh berhenti pada angka rata-rata provinsi.
Ketika melihat data di tingkat kabupaten/kota, persoalannya menjadi lebih jelas. Gunungkidul masih berada pada angka 19,7 persen dan Kulon Progo 18 persen. Sementara Sleman berada di 17,3 persen, Bantul 16,5 persen, dan Kota Yogyakarta 14,8 persen.
Artinya, tantangan yang kita hadapi tidak sama di setiap wilayah.
Semakin rendah angka stunting, justru semakin kita membutuhkan kebijakan yang tepat sasaran. Kita tidak bisa hanya menunggu anak mengalami gangguan pertumbuhan, kemudian melakukan intervensi ketika masalahnya sudah terlihat. Pencegahan harus dimulai jauh sebelumnya, termasuk dari kualitas makanan yang dikonsumsi keluarga.
Di sinilah persoalan konsumsi ikan menjadi menarik untuk kita lihat.
Ironi di Balik Konsumsi Ikan di DIY
DIY bukan daerah yang kekurangan sumber daya perikanan. Kita memiliki wilayah pesisir, perikanan tangkap, perikanan budidaya, pasar ikan, pelaku usaha pengolahan, hingga UMKM pangan yang cukup kuat.
Tetapi konsumsi ikan masyarakat kita masih relatif rendah.
Data 2024 menunjukkan Angka Konsumsi Ikan (AKI) DIY sebesar 36,03 kg/kapita/tahun dengan serapan sekitar 141,06 ribu ton. Sementara AKI nasional mencapai 58,76 kg/kapita/tahun dengan
Ada jarak yang cukup besar.
Tentu saya tidak ingin mengatakan bahwa rendahnya konsumsi ikan adalah penyebab tunggal stunting. Persoalan stunting terlalu kompleks untuk dijelaskan dengan satu faktor. Tetapi data ini memberikan kita satu ruang intervensi yang sangat konkret.
Di satu sisi kita sedang berusaha menurunkan stunting. Di sisi lain, salah satu sumber protein hewani yang mudah kita temukan justru belum menjadi bagian yang cukup kuat dalam pola makan masyarakat.
Dalam persaingan pangan di meja makan, ikan tidak hanya bersaing dengan ikan lainnya.
Ikan bersaing dengan ayam, telur, daging, tahu, tempe, bahkan dengan makanan siap santap yang semakin mudah ditemukan.
Karena itu, meningkatkan konsumsi ikan tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa ikan bergizi. Kita juga harus membuat ikan menjadi pilihan yang mudah, terjangkau, aman, praktis, dan disuka
Menurut saya, ini bukan sekadar persoalan kampanye makan ikan. Ini adalah persoalan bagaimana kita mengubah kebiasaan makan keluarga.
Anak Tidak Cukup Hanya Kenyang
Kita sering mengatakan bahwa anak harus makan cukup.
Tetapi cukup belum tentu bergizi.
Anak bisa saja makan tiga kali sehari, tetapi jika makanan yang dikonsumsi kurang beragam dan miskin protein serta mikronutrien, kebutuhan tumbuh kembangnya belum tentu terpenuhi.
WHO menempatkan usia 6–23 bulan sebagai periode yang sangat penting dalam pemenuhan makanan pendamping ASI. Pada masa ini, anak membutuhkan makanan yang beragam, aman, higienis, dan padat zat gizi. Pangan hewani, termasuk ikan, daging, dan telur, menjadi bagian penting dari pola makan tersebut.
Artinya, yang perlu kita dorong bukan sekadar “anak makan lebih banyak”, tetapi “anak makan lebih baik”.
Ini perubahan cara berpikir yang sederhana, tetapi penting.
Mengapa Ikan?
Pertanyaan berikutnya tentu: mengapa ikan?
Ikan merupakan sumber protein hewani yang baik. Ikan menyediakan asam lemak omega-3 dan berbagai mikronutrien yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak.
Penelitian Headey, Hirvonen, dan Hoddinott (2018) terhadap lebih dari 130 ribu anak usia 6–23 bulan di 49 negara menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi pangan hewani, termasuk kelompok daging dan ikan, dengan risiko stunting yang lebih rendah.
Penelitian tersebut juga memberikan pelajaran penting: bukan hanya satu jenis makanan yang menentukan. Keragaman sumber pangan hewani memberikan manfaat gizi yang lebih baik.
Artinya, ikan tidak boleh diposisikan sebagai “obat” untuk stunting.
Saya tidak pernah melihat persoalan sesederhana itu.
Ikan adalah salah satu bagian dari solusi. Ia harus ditempatkan bersama perbaikan pola makan, kesehatan ibu dan anak, sanitasi, pengendalian penyakit, edukasi keluarga, dan berbagai intervensi lainnya.
Namun justru karena ikan adalah bagian dari solusi, kita harus memastikan potensi tersebut benar-benar sampai ke meja makan keluarga.

Dari Ikan Mentah Menjadi Makanan yang Disukai Anak
Di sinilah saya melihat pentingnya program Alih Teknologi Informasi atau ATI pengolahan hasil perikanan yang dijalankan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan DIY.
ATI menurut saya tidak boleh berhenti sebagai kegiatan pelatihan memasak. ATI harus menjadi jembatan antara teknologi, kebutuhan konsumen, dan pasar.
Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan dan teknologi sederhana itu benar-benar membantu keluarga mengolah ikan menjadi makanan yang aman, bergizi, terjangkau, dan disukai anak.
Kita semua tahu, di rumah persoalannya kadang sederhana.
Anak tidak suka ikan karena amis. Orang tua khawatir dengan durinya. Ada yang tidak tahu cara menyimpan ikan dengan baik. Ada yang bingung mengolah ikan agar anak tidak bosan. Ada pula keluarga yang merasa memasak ikan membutuhkan waktu lebih banyak.
Anak tidak suka ikan karena amis?
Kita cari solusi teknologi dan formulasi produknya.
Orang tua khawatir duri?
Kita kembangkan produk yang lebih aman dan praktis.
Keluarga tidak memiliki banyak waktu untuk memasak?
Kita kembangkan produk yang mudah disiapkan.
Konsumen membutuhkan harga terjangkau?
Formulasi dan efisiensi produksi harus menjawab persoalan tersebut.
Dengan demikian, ATI bukan sekadar mengajarkan bagaimana membuat nugget, dimsum, bakso, kaki naga, atau produk lainnya.
ATI harus menjawab pertanyaan yang lebih mendasar:
Produk ikan seperti apa yang benar-benar dibutuhkan dan diinginkan konsumen?
Karena itu, pengolahan menjadi penting.
Ikan bisa diolah menjadi nugget, dimsum, bakso, kaki naga, atau bentuk makanan lain yang lebih mudah diterima anak. Tetapi kita harus berhati-hati agar inovasi pengolahan tidak justru menghilangkan tujuan awalnya. Jangan sampai ikan hanya berubah bentuk, tetapi kandungan gizinya tidak lagi menjadi perhatian.
Di sinilah ATI harus berkembang. Bukan hanya mengajarkan resep, tetapi juga mengajarkan pemilihan bahan, kebersihan, penyimpanan, pengolahan yang tepat, kandungan gizi, hingga cara menyajikan makanan yang sesuai untuk anak.
Dengan begitu, teknologi benar-benar menjadi alat untuk memperbaiki kualitas pangan keluarga.

Gemarikan Harus Menjadi Kebiasaan, Bukan Sekadar Slogan
Hal yang sama berlaku untuk Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan atau Gemarikan.
Selama ini kita sudah sering mendengar ajakan “Ayo Makan Ikan”.
“Makan Ikan Sehat, Makan Ikan Kuat, Makan Ikan Cerdas”
Menurut saya, kampanye seperti itu tetap penting. Tetapi sekarang kita perlu melangkah lebih jauh. Gemarikan harus berubah dari Kampanye menjadi Perubahan Perilaku.
Masyarakat perlu tahu ikan seperti apa yang baik untuk keluarga, bagaimana memilih ikan yang segar, bagaimana menyimpannya, bagaimana mengolahnya dengan aman, dan bagaimana menyajikannya dalam menu yang beragam.
Untuk keluarga dengan balita, persoalan duri juga tidak bisa dianggap sepele. Cara pengolahan harus memperhatikan keamanan anak.
Edukasi semacam inilah yang membuat Gemarikan tidak berhenti sebagai kampanye, tetapi menjadi kebiasaan.
Pada akhirnya, keberhasilan Gemarikan bukan diukur dari seberapa sering spanduk “Ayo Makan Ikan” dipasang, tetapi dari seberapa sering ikan benar-benar tersaji di meja makan keluarga.
Jangan Menunggu Anak Menjadi Stunting
Pencegahan stunting juga tidak boleh dimulai ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan.
Kita harus bergerak lebih awal.
Remaja putri perlu mendapatkan perhatian karena mereka adalah calon ibu. Kesehatan dan status gizi seorang ibu akan ikut menentukan kondisi kehamilan dan tumbuh kembang anak yang dilahirkannya.
Karena itu, pendekatan pencegahan harus melihat perjalanan kehidupan manusia secara utuh.
Remaja yang sehat akan lebih siap menjadi calon ibu. Ibu yang sehat memiliki peluang lebih besar menjalani kehamilan yang sehat. Kehamilan yang sehat memberikan awal kehidupan yang lebih baik bagi bayi. Setelah itu, pola asuh dan pemberian makanan yang tepat akan menentukan tahap pertumbuhan berikutnya.
Jadi, kalau kita ingin serius mencegah stunting, intervensinya harus dimulai sebelum seorang anak lahir.
ATI dan Gemarikan pun seharusnya tidak hanya menyasar ibu yang memiliki balita. Edukasi tentang pangan bergizi dapat diperluas ke sekolah, remaja putri, calon pengantin, keluarga muda, dan komunitas masyarakat.

Dari Gizi Sekaligus Menggerakkan Ekonomi Lokal
Ada hal lain yang menurut saya tidak kalah penting.
Kebijakan pangan dan gizi seharusnya juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
Kita memiliki nelayan, pembudidaya ikan, kelompok wanita tani, UMKM pengolahan pangan, pelaku usaha kuliner, hingga perguruan tinggi yang memiliki kemampuan riset dan teknologi.
Semua ini sebenarnya bisa dihubungkan.
Ikan lokal dapat diolah oleh kelompok masyarakat dan UMKM. Melalui program ATI, kelompok Masyarakat dilatih mengolah ikan menjadi berbagai produk makanan bergizi dan diberikan juga informasi tentang menghitung potensi ekonomi dari berjualan makanan berbahan dasar ikan.
Dengan demkian produk yang dihasilkan bisa memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus membuka pasar baru. Perguruan tinggi dapat membantu formulasi produk dan pengujian kandungan gizi. Pemerintah membantu dari sisi pembinaan, standar keamanan pangan, dan akses pasar.
Dengan demikian, kebijakan gizi tidak hanya menghasilkan anak yang lebih sehat, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi baru di masyarakat.
Saya melihat peluang ini semakin besar dengan adanya Program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
MBG bukan hanya program pemenuhan gizi.
Jika dirancang dengan baik, MBG juga dapat menjadi pasar institusional yang menciptakan permintaan rutin bagi produk pangan lokal.
Badan Gizi Nasional pada 2026 menegaskan pentingnya penyerapan produk UMKM dan BUMDes lokal dalam rantai pasok MBG sepanjang memenuhi standar keamanan dan mutu pangan. BGN juga mendorong penggunaan pangan lokal agar manfaat MBG tidak berhenti pada penerima manfaat, tetapi ikut menggerakkan ekonomi di sekitar satuan pelayanan.
FAO sendiri mendorong pemanfaatan pangan akuatik lokal dalam program makanan sekolah di berbagai negara. Bagi DIY, ini dapat menjadi peluang untuk menghubungkan sektor perikanan, UMKM pangan, pendidikan, dan program pemenuhan gizi anak.
Tentu pelaksanaannya harus tetap memperhatikan standar keamanan pangan, kualitas gizi, serta ketepatan sasaran.
Dan satu hal yang harus kita pastikan: program pangan untuk anak sekolah tidak boleh membuat perhatian terhadap 1.000 Hari Pertama Kehidupan berkurang. Ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak bawah dua tahun tetap membutuhkan perhatian khusus dalam strategi pencegahan stunting.
Kita Tidak Kekurangan Potensi
Saya percaya DIY sebenarnya memiliki banyak modal untuk mengerjakan semua ini.
Kita memiliki wilayah pesisir dan sumber daya perikanan. Kita memiliki perguruan tinggi dengan kemampuan riset yang kuat. Kita memiliki UMKM pangan, jaringan Posyandu, kader masyarakat, pemerintah kalurahan, serta berbagai komunitas yang selama ini sudah bekerja di lapangan.
Yang sering menjadi persoalan bukan kekurangan program.
Justru kadang kita memiliki terlalu banyak program yang berjalan sendiri-sendiri.
Karena itu, tantangan kita sekarang adalah menghubungkannya.
ATI tidak berdiri sendiri. Gemarikan juga tidak berdiri sendiri. Program kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, UMKM, hingga program pangan harus saling menguatkan.
Di sinilah pendekatan pentahelix menjadi penting. Pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, masyarakat, media, dan keluarga harus berada dalam satu gerakan yang sama.
Dan keluarga tetap menjadi titik terpenting.
Sebab pada akhirnya, pemerintah bisa membuat program apa pun, tetapi makanan itu tetap akan berakhir di meja makan keluarga.
Masa Depan Jogja Dimulai dari Piring Anak
Pada akhirnya, pembicaraan tentang ikan dan stunting bukan hanya pembicaraan tentang ikan.
Ini adalah pembicaraan tentang masa depan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kita boleh membangun jalan yang semakin baik, gedung yang semakin tinggi, kawasan ekonomi yang semakin maju, dan investasi yang semakin besar. Tetapi semua pembangunan itu akan kehilangan makna jika anak-anak kita tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.
Karena itu, pencegahan stunting harus kita lihat sebagai investasi jangka panjang.
Bukan sekadar memenuhi target angka.
Bukan sekadar menyelesaikan program.
Dan bukan pula sekadar menghabiskan anggaran.
Saya ingin ATI berkembang menjadi lebih dari sekadar pelatihan. Saya ingin Gemarikan menjadi lebih dari sekadar slogan. Saya ingin ikan lokal menjadi bagian nyata dari pola makan keluarga Yogyakarta sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Dan sebagai bagian dari DPRD DIY, saya ingin memastikan ikhtiar tersebut terus dikawal melalui regulasi, anggaran, dan pengawasan yang lebih berbasis hasil.
Sebab masa depan generasi kita sebenarnya dimulai dari hal yang sangat sederhana.
Dari makanan yang kita pilih.
Dari kebiasaan yang kita bangun.
Dan dari apa yang kita letakkan di atas piring anak-anak kita hari ini.

